cerita Sang Penebang Kayu Yang Jujur

CERITA INSPIRATIF

Nama: Yanuarda Andhika P

Kelas:9G(29)

Sang Penebang Kayu Yang jujur


Di sebuah hutan yang indah hiduplah seorang penebang kayu. Saban hari dia bersama istrinya pergi ke hutan untuk memotong kayu pilihan. Kayu yang didapatkannya kemudian dia jual untuk hidup sehari-harinya. Untuk menuju hutan, dia harus melewati sebuah sungai yang airnya sangat deras dan jernih.

Suatu hari, selesai dari pekerjaannya, dia bersama istrinya pun membasuh muka di sungai yang setiap hari selalu mereka lewati tersebut. Sang penebang kayu meletakkan kapaknya di atas batu. Akan tetapi, setelah selesai membersihkan badannya, betapa terkejutnya sang penebang kayu ketika dia tak mendapati kapak miliknya di atas batu tempat dia meletakkannya tadi. Istrinya pun tak kalah terkejutnya.

Sang penebang kayu dan istrinya pun mencari kapak tersebut. Mereka hampir putus asa karena kapak itu tidak kunjung mereka dapatkan. Akhirnya, sang penebang kayu berdoa dan memohon kepada Dewata.

“Dewa, kami telah kehilangan sebuah kapak. Kapak itu sangat berarti bagi kami. Dengan kapak itulah keluarga kecil kami hidup. Tolonglah, Dewa Kami mohon kembalikan kapak kami!”

Dewa pun mendengar ketulusan doa sang penebang kayu. Dewa pun menyodorkan sebuah kapak emas kepada sang penebang kayu.

“Apakah kapak emas ini yang kau cari?” tanya Dewa.

“Bukan, Dewa. Kami tak pernah memiliki sebuah kapak emas seindah itu,” jawab sang penebang kayu.

Dewa pun kemudian menyodorkan lagi sebuah kapak. Kali ini bukan sebuah kapak emas, tetapi sebuah kapak berlapis perak.

“Apakah ini kapakmu yang hilang itu?” tanya Dewa lagi.

“Bukan, Dewa. Bukan kapak berlapis perak itu yang kami cari dan kami butuhkan. Kapak kami sudah agak tua dan usang karena saban hari kami gunakan,” jawab sang penebang kayu.

Dewa tersenyum mendengar jawaban jujur sang penebang kayu. Akhirnya diberikanlah kapak tua dan usang yang sama persis dengan kapak sang penebang kayu.

“Inikah kapak yang kau cari?” tanya Dewa.

“Benar Dewa. Inilah kapak yang kami minta dan kami butuhkan” jawab sang penebang kayu setelah diamatinya kapak tua dan usang pemberian Dewata. Sang penebang kayu merasa bahwa memang kapak itulah miliknya yang hilang.

“Terima kasih, Dewa,” ujar sang penebang kayu sambil mohon diri kepada Dewa.

“Tunggu” kata Dewa, “karena Aku tahu, kau adalah orang yang jujur maka bawalah semua kapak yang kautolak tadi. Bawalah pulang kapak emas dan kapak berlapis perak itu serta. Semuanya kuberikan padamu, semuanya telah menjadi milikmu sekarang.”

“Baiklah. Terima kasih Dewa” jawab sang penebang kayu dan istrinya.

Hari mulai petang ketika sang penebang kayu dan istrinya melangkah pulang ke rumah mereka dengan hati yang riang


Komentar